Karya: Ni Kadek Anindita Suma Winatha
Pada suatu hari di sekolah, ada dua anak yang bernama Sinta dan Hana. Mereka sudah bersahabat selama hampir enam tahun. Kini, mereka duduk di kelas 6 SD, dan hari kelulusan pun semakin dekat.
Beberapa bulan kemudian, suasana sekolah tampak ramai oleh acara kelulusan.
“Ini hari kelulusan kita, Hana!” kata Sinta dengan gembira.
“Iya, nggak terasa ya, sekarang kita udah lulus aja,” jawab Hana sambil tersenyum.
“Kira-kira nanti kita bisa satu sekolah lagi nggak, ya?” tanya Sinta penuh harap.
“Nggak tahu juga, Sin. Semoga aja, ya,” jawab Hana pelan.
Setelah acara kelulusan selesai, mereka saling berpelukan dan berjanji untuk tetap berhubungan, apa pun yang terjadi.
Satu bulan kemudian
Hana mengirim pesan kepada Sinta.
“Yeay! Aku diterima di SMP Negeri 1!” tulisnya dengan bangga.
Sinta ikut senang mendengarnya, tapi ternyata mereka tidak masuk sekolah yang sama. Meski begitu, mereka masih sempat saling berkabar lewat pesan singkat. Namun, lama-kelamaan, Hana mulai jarang membalas pesan Sinta.
Beberapa tahun kemudian
Sinta sudah duduk di bangku kelas 8 SMP. Namun, ia merasa sedih karena Hana tak pernah menghubunginya lagi.
“Ih… kok selama ini Hana nggak ada kabar, ya?” keluh Sinta dengan nada kesal.
Keesokan harinya, Sinta mencoba menelepon Hana, tapi nomor yang biasa ia hubungi sudah tidak aktif.
“Nomor yang Anda tuju sudah tidak aktif.”
Sinta terdiam. Ia merasa ditinggalkan dan ditipu oleh sahabatnya sendiri. Hatinya hancur dan kecewa.
Beberapa tahun berlalu lagi
Sinta akhirnya lulus SMP. Suatu hari, ia pergi ke mal untuk membeli beberapa barang. Saat berjalan di dalam mal, matanya tertuju pada seseorang yang terlihat sangat familiar.
“Ehh… bukannya itu Hana?” gumamnya pelan.
Ia melihat Hana sedang berbicara dengan seorang teman lain. Sinta mendekat dengan ragu.
“Hana… apa benar ini kamu?” tanya Sinta perlahan.
Hana menoleh sebentar dan menjawab datar,
“Iya, aku Hana. Kenapa?”
Sinta tersenyum kecil dan berkata,
“Aku Sinta, sahabatmu waktu SD, ingat nggak?”
Namun, Hana justru menjawab dengan nada tinggi,
“Eh, maaf ya, aku nggak kenal kamu. Jangan sok akrab deh. Ini sahabat baruku. Kamu udah bukan siapa-siapa aku lagi.”
Sinta terdiam. Hatinya seolah runtuh. Ia menatap Hana sekali lagi, lalu perlahan pergi meninggalkan tempat itu dengan air mata yang hampir jatuh.
Sesampainya di rumah, Sinta langsung menangis di kamarnya. Ia menyesal karena selama ini menunggu dan berharap pada sahabat yang ternyata telah melupakannya.
“Ternyata… nggak semua sahabat bisa bertahan selamanya,” bisik Sinta pelan.