Karya : Ni Kadek Devira Bintang Nikenindira
Di sekolah, Raka sering berjalan sendirian. Iya anak yang ceria sebenarnya, tapi beberapa teman sering mengejek karena badannya gemuk.
Setiap kali lewat di lorong ada saja yang berbisik atau tertawa pelan. Kadang Raka pura-pura tidak dengar, tapi hatinya terasa sesak
Saat pelajaran olahraga, ejekan itu makin sering terdengar.
“Ayo, Raka! Jangan lambat!” “Nanti lapangan bisa goyang!”
Anak-anak tertawa, sementara Raka hanya menunduk. Ia mulai tak semangat sekolah, bahkan pernah pura-pura sakit supaya bisa tetap di rumah.
Namun semuanya berubah saat ada murid baru di kelasnya, namanya Tio. Tio anak yang ramah, selalu tersenyum pada siapa pun. Saat jam istirahat pertama, Tio langsung duduk di sebelah Raka.
“Hai, aku Tio! Boleh duduk di sini?” “Eh… boleh,” jawab Raka pelan.
Sehari itu, Tio selalu mengajak Raka makan bareng dan ngobrol. Ketika teman lain mengejek lagi, Tio malah membela Raka.
“Hei, enggak lucu tahu ngejek orang. Kalau kalian di posisi dia, suka nggak?”
Anak-anak terdiam. Mereka tidak pernah mendengar ada yang membela Raka seperti itu. Lama-lama, mereka sadar kalau ejekan mereka keterlaluan.
Beberapa hari kemudian, saat pelajaran olahraga, teman-teman justru menyemangati Raka.
“Ayo, Raka! Kamu bisa kok!” Dan kali ini, Raka berlari dengan senyum lebar.
Sejak itu suasana kelas mulai berubah. Raka tidak lagi diejek teman-temannya. Ia kini sering tertawa bersama teman-temannya. Tio menjadi sahabat pertamanya yang benar-benar peduli, dan perlahan, anak-anak lain mengikuti sikap baik Tio.
Guru mereka, Bu lani, memperhatikan perubahan itu dengan senyum bangga. “Wah, sekarang kelas kita makin kompak, ya”. Katanya suatu pagi. Semua anak saling pandang dan tersenyum, termasuk Raka.
Suatu hari sekolah mengadakan lomba estafet. Awalnya Raka ragu untuk ikut, tapi Tio menggenggam bahunya. “Coba aja, Rak. Aku yakin kamu bisa!” dengan semangat baru, Raka setuju.
Ketika lomba dimulai, semua teman satu tim berteriak memberi semangat. “Cepat, Raka! ayo terus!” Raka berlari sekuat tenaga, napasnya terengah, tapi hatinya penuh keyakinan. Ia berhasil menyerahkan tongkat terakhir tepat waktu. Tim mereka menang!
Sorak-sorai memenuhi lapangan Tio memeluk Raka sambil tertawa. “Hebat, Rak! Aku kan bilang juga, kamu bisa!”
Raka tersenyum lebar. untuk pertama kalinya, dia bisa diterima apa adanya. Sejak hari itu, Raka tidak hanya punya teman baru. Tapi juga, punya rasa percaya diri yang besar.
Dan semua itu berkat dari satu hal sederhana: kebaikan hati seorang teman.