u3-ChatGPT-Image-10-Feb-2026-09.46.38-1
Rumah Tua Yang Kosong

Karya: Bellatrix Sashikirana Putri Piton

 

Suatu hari, ada seorang anak bernama Angel. Ia adalah anak yang baik hati, berasal dari keluarga kaya dan harmonis  keluarga yang sering disebut keluarga cemara karena selalu rukun dan penuh kasih sayang. Angel juga memiliki sahabat dekat bernama Kirana, gadis yang ceria dan suka menolong.

Hari itu, langit tampak mendung. Angin bertiup pelan, dan awan hitam menggantung di langit. Sepulang sekolah, Angel dan Kirana berjalan bersama melewati jalan biasa yang mereka lalui setiap hari. Di tengah perjalanan, mereka melihat sebuah rumah tua yang sudah lama kosong. Cat dindingnya terkelupas, jendela kayunya terbuka setengah, dan halamannya dipenuhi rumput liar. “Kira-kira siapa yang dulu tinggal di sini, ya?” tanya Kirana pelan.
“Entahlah,” jawab Angel, “tapi rumah ini kelihatan menyeramkan.” Mereka berdua terdiam sejenak sambil memandangi rumah tua itu dari luar pagar. Tiba-tiba, hujan deras turun, membuat mereka basah kuyup. Karena tidak membawa payung dan tak ada tempat berteduh lain, mereka pun terpaksa berlindung di teras rumah tua itu.

Waktu berlalu. Sudah hampir satu jam mereka duduk di sana, mendengar suara hujan yang semakin lebat. Suasana semakin mencekam ketika angin kencang berhembus dan jendela di lantai dua tiba-tiba terbuka keras, menimbulkan suara “brukkk!” yang membuat keduanya terkejut.

“Aduh! Suaranya keras sekali,” kata Kirana sambil memegang lengan Angel.
“Mungkin jendelanya belum terkunci. Bagaimana kalau kita tutup supaya tidak berisik?” usul Angel.

Namun, ketika mereka berdua melangkah ke depan pintu rumah tua itu, tiba-tiba terdengar suara halus memanggil nama mereka.

“Angel… Kirana…”

Mereka berdua langsung membeku ketakutan.

“Kamu dengar itu?” bisik Kirana dengan wajah pucat.
“I-iya… siapa yang memanggil kita?” jawab Angel gemetar.

Suara itu semakin keras dan terasa semakin dekat. Angel menatap sekeliling dengan jantung berdebar. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.

Betapa terkejutnya Angel saat melihat ibunya berdiri sambil membawa payung besar!

“Angel! Ayo pulang, Nak! Ibu sudah mencarimu dari tadi,” kata ibunya dengan lembut.

Angel langsung lega. Ia bergegas mengambil tasnya, lalu mengajak Kirana pulang bersamanya sambil berlari kecil di bawah payung ibunya.

Sesampainya di rumah, Angel dan Kirana tertawa lega.

“Aku kira tadi hantu beneran,” kata Kirana sambil tersenyum.

“Haha, ternyata cuma Ibu. Tapi mulai sekarang, aku nggak mau berteduh di rumah tua lagi,” jawab Angel.

Mereka pun belajar sesuatu hari itu bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tapi berani menghadapi rasa takut dengan hati yang tenang.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait