u3-ChatGPT-Image-10-Feb-2026-09.59.57-1
Komik yang Mengubah Ayah dan Ibu

Karya: I Gusti Ayu Kadek Julia Melati

 

Namaku Mala. Aku lahir dari keluarga sederhana, tapi di balik kesederhanaan itu tersimpan luka yang sulit kuceritakan. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara.

Ayahku seorang pejudi keras, sementara ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Aku juga memiliki adik perempuan bernama Luna, yang kini berusia lima tahun.

Hari-hari di rumah jarang sekali terasa hangat. Ayah hampir tidak pernah di rumah. Ia sering pulang larut malam dengan langkah gontai dan bau alkohol yang menyengat. Malam itu, suara langkahnya terdengar di depan pintu, disusul oleh bentakan dan suara botol yang terbanting di lantai. Ibu memarahi ayah, dan ayah membalas dengan teriakan yang lebih keras. Pertengkaran kembali terjadi seperti malam-malam sebelumnya.

Luna menangis memelukku erat. Aku menutup telinganya agar ia tidak mendengar cacian dan makian dari ayah. Tapi aku sendiri tidak bisa menutup telingaku. Yang kudengar hanyalah tangisan dan jeritan ibu. Aku hanya bisa menangis dalam diam, dan dalam hati aku berbisik:

“Ayah, aku rindu kasih sayangmu… Aku juga rindu saat berangkat sekolah bersamamu, seperti dulu.”

Sering kali aku bertanya pada diriku sendiri:

“Kenapa keluargaku harus begini? Aku juga ingin diantar sekolah oleh orang tuaku seperti anak-anak lain.”

Pagi hari datang tanpa kehangatan. Botol kaca yang semalam dibanting masih berserakan di lantai. Aku mencoba mengabaikannya dan bersiap ke sekolah. Saat hendak melangkah keluar, Luna menghentikanku sambil berkata pelan,

“Kak, sekolahnya jangan lama-lama ya. Luna takut Ayah sama Ibu bertengkar lagi.” Aku mengangguk pelan, tersenyum kecil, lalu melangkah pergi dengan hati berat.

Namun di sekolah pun aku merasa sendiri. Teman-temanku menjauh karena aku sering menolak ajakan mereka bermain. Mereka tidak tahu, aku harus membantu Ibu dan menjaga Luna setiap pulang sekolah. Karena itu, ejekan pun datang tanpa henti.

Tulisan-tulisan di mejaku sudah menjadi pemandangan biasa:

“Kamu jelek, Mala!”

“Diajak ke mal aja gak mau, miskin ya!”

Aku hanya bisa menunduk dan diam. Aku belajar menelan rasa sakit tanpa air mata.

Bel pulang berbunyi. Aku segera berlari ke rumah, berharap suasana sudah tenang.

Namun yang kudapat hanyalah suara pertengkaran yang lebih keras dari sebelumnya. Luna menangis di pojok ruangan. Aku segera memeluknya dan mencoba menenangkan diri. Tapi malam itu aku tak bisa lagi diam.

“Kalian bisa gak sih, sehari aja gak berantem? Aku juga ingin punya keluarga yang harmonis! Aku dan Luna masih butuh kasih sayang dari kalian!”

Suasana hening. Ayah dan Ibu terdiam. Aku segera menarik tangan Luna dan masuk ke kamar. Kami berdua menangis dalam diam, saling berpegangan tangan seolah takut kehilangan satu sama lain.

“Semoga Ayah dan Ibu gak bertengkar lagi ya, Kak,” ucap Luna dengan suara pelan. “Iya, Dek… semoga aja,” jawabku.

Beberapa saat kemudian, suara langkah ayah terdengar lagi. Ia pergi keluar rumah. Kali ini bukan untuk bekerja, melainkan untuk berjudi. Ibu duduk di sofa dengan wajah lelah. Aku tak tahu harus berbuat apa selain membereskan sisa kekacauan yang tertinggal.

Malam itu, aku duduk di kamar dengan pensil dan buku kosong. Aku mulai menggambar dan menulis tentang keluargaku. Setiap goresan pensil menjadi tempatku menumpahkan perasaan. Hari demi hari aku terus menulis dan menggambar. Kadang Luna duduk di sampingku, tersenyum melihatku sibuk dengan buku kecilku.

Hingga tiba Minggu, 2 November 2025, komikku selesai. Aku memberinya judul “Keluargaku yang Hampir Hilang.” Aku tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi titik balik segalanya.

Ayah masuk ke kamar mencari jaket yang pernah kupinjam. Namun matanya tertuju pada buku komikku yang tergeletak di meja. Ia membukanya, membaca lembar demi lembar, hingga wajahnya mulai berubah. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Ia tidak berkata apa pun. Hanya keluar dari kamar dengan langkah pelan, sambil membawa buku itu.

Beberapa menit kemudian, kudengar suara isak tangis Ibu. Ayah memberinya komik itu, dan mereka membaca bersama dalam diam. Malam itu, tidak ada pertengkaran. Hanya keheningan yang terasa hangat.

Keesokan paginya, Ayah tidak pergi ke tempat judi. Ia membantu Ibu memasak di dapur. Senyum kecil mulai terlihat di wajah Ibu. Sejak saat itu, rumah kami tidak lagi dipenuhi teriakan. Hanya suara tawa kecil, obrolan ringan, dan langkah kecil Luna yang berlari di ruang tamu.

Mungkin, perubahan tidak datang dari kata-kata. Tapi dari kisah sederhana yang lahir dari hati yang terluka. Kini, setiap malam kami makan bersama. Ayah bercerita tentang pekerjaan, Ibu tertawa pelan, dan Luna duduk di pangkuanku sambil menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri.

Aku tahu, keluarga kami belum sempurna. Tapi kini kami saling berusaha memperbaiki diri. Karena aku percaya, setiap luka yang disembuhkan dengan cinta akan berubah menjadi cahaya.

Ingatlah, setiap kali kita tersesat, selalu ada jalan keluar yang terang dan indah  asal kita mau membuka hati untuk saling mengerti.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait