Karya: Ni Komang Yashila Sahana ( VA )
Kamar mandi rumahku adalah satu-satunya bagian yang selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain. Lantainya keramik tua, dan di sudut, selalu ada bau samar seperti lumut dan karat.
Malam itu, aku sedang gosok gigi saat aku menyadari sesuatu yang aneh. Keran wastafel yang sudah lama rusak dan hanya menetes, kini tidak menetes lagi. Malah, terdengar seperti suara isakan pelan
“Kreek… Kreek…”
Aku mematikan lampu kamar mandi yang berkedip-kedip, berpikir mungkin itu hanya resonansi pipa.
Saat gelap,suara isakan itu berubah menjadi senandung yang sangat lirih. Melodi aneh dan terputus-putus. Sumbernya terasa di dalam dinding, tepat di belakang cermin.
Aku menyalakan kembali lampu. Keheningan.
Lalu aku melihatnya.
Di permukaan cermin berdebu, ada sidik jari basah yang belum lama diusap. Garis-garisnya berantakan, seolah seseorang telah mencoba menghapus uap air, tapi itu tidak mungkin, karena aku baru saja masuk.
Jantungku berdebar. Aku menahan napas dan mengusap cermin itu dengan handuk.
Tepat saat cermin itu bersih, bayanganku terpantul.
Tapi ada yang berbeda.
Di belakang bahu kiriku, bayangan cermin menunjukkan sesosok bayangan lain.
Samar, Tinggi, dan berambut panjang. Sosok itu tidak bergerak, hanya berdiri tegak.
Aku tersentak dan membalikkan badan dengan cepat
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya ada handuk yang menggantung di balik pintu.
Aku kembali menatap cermin. Sosok itu masih ada di bayanganku, tetapi kini ia bergerak.
Bayangan di cermin itu perlahan mengangkat tangannya yang pucat dan panjang. Jari-jarinya yang kurus menyentuh rambutku, yang tampak basah dan acak-acakan di cermin
Aku bisa merasakan tarikan dingin di kulit kepala.
Kemudian, bayangan itu membungkuk mendekat ke telingaku. Aku bisa melihat mulutnya bergerak di pantulan cermin, meskipun wajahnya tertutup rambut.
Suaranya bukan isakan lagi. Itu adalah bisikan dingin terasa menembus telingaku:
“ Airnya panas sekali, Tuan… Tolong matikan kerannya…”
Saat itu juga, keran shower yang ada di belakangku tiba-tiba menyala dengan kekuatan penuh . Bukan air dingin, tapi uap air panas yang mengepul, memenuhi ruangan kecil itu dengan cepat, dan suara mendesisnya seperti raungan.
Aku berlari keluar, menutup pintu kamar mandi dengan keras, dan menguncinya.
Aku berdiri di luar, gemetar, mendengar suara air mendidih dan uap yang menekan dari dalam. Aku tidak berani masuk lagi.
Keesokan paginya, aku memanggil tukang untuk memperbaiki keran.
Tukang itu keluar dengan wajah pucat. Dia menunjukkan padaku keran shower yang telah dilepas.
“Ini tidak rusak, Mas,” Katanya pelan.
“Saya cuma bingung…. ada beberapa helai rambut panjang melilit di dalam keran dan airnyan… baunya seoerti darah.”
Sampai hari ini, aku tidak pernah lagi menyalakan keran kamar mandi itu melebihi tetesan air seperlunya. Aku tidak ingin airnya terlalu panas.