Karya : I Gusti Ketut Adhi Pramana Mahesa
Di sebuah desa di Bali, hiduplah seorang anak bernama Wira. Ia sangat suka mendengar cerita dari kakeknya, terutama tentang Puputan Badung, peristiwa heroik rakyat Bali melawan penjajahan Belanda.
Suatu sore, Wira duduk di bale sambil bertanya kepada kakeknya,
“Kakek, apa itu Puputan Badung?”
Kakek tersenyum sambil menatap jauh ke arah pura.
“Puputan, Nak, artinya berjuang sampai titik darah penghabisan. Dulu, rakyat dan raja Badung berani melawan penjajah Belanda meski tahu mereka akan kalah.”
Wira terdiam, matanya berbinar penuh kagum.
“Jadi mereka tidak takut mati, Kek?”
“Tidak, Wira. Mereka berjuang demi harga diri dan tanah air. Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung, memimpin pasukannya dengan pakaian adat putih, membawa keris, dan berjalan menuju medan perang dengan gagah berani,” jelas kakek dengan suara pelan namun berwibawa.
Wira membayangkan raja dan rakyat berjalan bersama di bawah terik matahari, membawa panji-panji kebanggaan mereka. Meskipun peluru Belanda menghujani, mereka tidak gentar.
“Wah, hebat sekali mereka, Kek. Aku jadi ingin seperti mereka, berani membela kebenaran,” kata Wira bersemangat.
Kakek tersenyum dan mengelus kepala cucunya.
“Itulah semangat Puputan yang harus kamu jaga, Wira. Berani bukan berarti harus berperang, tapi berani berbuat baik, jujur, dan tidak menyerah.”
Wira mengangguk. Ia kini mengerti bahwa semangat Puputan Badung bukan hanya tentang perang, tapi tentang keberanian, cinta tanah air, dan keteguhan hati.
Sejak hari itu, Wira bertekad untuk menjadi anak yang rajin belajar, membantu teman, dan menjaga nama baik sekolahnya. Ia ingin menjadi penerus semangat para pahlawan Badung yang telah gugur dengan gagah berani.